Tembang Dolanan : Mentok-Mentok




 
Mentok-mentok tak kandhani
Mung lakumu angisin-isini
Mbokya aja ndheprok
Ana kandhang wae
Enak-enak ngorok
Ora nyambut gawe
Mentok-mentok mung lakumu
Megal-megol gawe guyu
 
Sebelum membahas filosofi tembang dolanan diatas, kita akan membahas dulu pengertiang tembang dolanan. Dalam KBBI, Tembang diartikan sebagai ragam suara yang berirama. Tembang sebagai ekspresi estetik mengandung ciri-ciri utama yang bersifat kontemplatif-transedental, bersifat simbolik dan mempunyai makna filosofis. Tembang mempunyai makna yang multitafsir karena merupakan karya sastra yang bersifat multiinterpretable. Pemaknaan yang bergantung pada horison harapan pada pembacanya (Jauss, 1974)
Pada dasarnya lagu tembang dolanan sudah ada sejak zaman nenek moyang dalam bentuk kidung atau tembang. Salah satu warisan yang sangat digemari anak-anak (Jawa). lagu dolanan jawa bukan hanya berfungsi sebagai wadah bermain dan bersosialisasi dengan teman sebaya, lebih dari itu lagu tembang dolanan sangat menarik kerena mempunyai makna yang tersirat, berisi tentang pesan-pesan moral sebagai pembentukan karakter bagi anak. Makna tersebut dapat berupa pesan religius, kebersamaan dan keselarasan dalam menjalani kehidupan. Selain sebagi pengiring lagu anak-anak, tembang mentok-mentok juga sering digunakan untuk mengiringi tarian-tarian tradisonal, maupun tarian barat.
Sekarang kita akan bahas mengenai makna filosofi tembang dolanan tersebut menurut versi saya dengan mengambil beberapa referensi bacaan. Mentok, binatang yang dulu semasa kecil saya begitu lucu namun jorok. Sering berkeliaran di pinggir rumah kemudian mandi di sungai. Mentok merupakan binatang sejenis unggas atau itik yang sangat malas. Gaya hidupnya yang terserah’ enggan bekerja keras untuk membahagiakan hidupnya.
“mentok-mentok tak kandhani, mung lakumu angisin-ngisini” artinya mentok-mentok saya beritahu, kehidupanmu/gaya hidupmu itu sungguh memalukan. Pesan yang disampaikan pada lirik pertama ini adalah bahwa kita di anjurkan untuk menasehati teman kita, sedang dalam menasehati tersebut hendaklah jujur. Jika ia berlaku buruk ya katakan buruk, jika baik katakan baik. Kietika itu hal yang memalukan juga harus dikatakan untuk kebaikan dirinya.
“Mbokya aja ndheprok, ana kandhang wae” artinya jangan hanya duduk atau diam, di kandang saja. Menjadi manusia harus giat beraktifitas. Jangan bermalas-malasan dirumah (kamar). bersosialisasi dan mencari banyak pengalaman. Belajar dimanapun dan kepada siapapun. Melihat jaman sekarang anak-anak bahkan sudah dewasa banyak yang bermalas-malasan. Bermain gadget dikamar seharian, dan enggan keluar rumah sebatas menyapa teman atau tetangga.
“Enak-enak ngorok, ora nyambut gawe” artinya santai-santai mendengkur, tidak bekerja. Lirik inilah yang paling memuat pesan tentang kemalasan. Tidak mau bekerja malah asik tidur dirumah. Manusia harus selalu bekerja untuk mencukupi kebutuhan hidupnya. Meski rezeki sudah diatur sama Tuhan, namun sebagai manusia yang beriman harus senantiasa berikhtiar dan berusaha untuk kebahagian dirinya. Karena bekerja juga merupakan ibadah kepada sang Pencipta.
Mentok-mentok mung lakumu, Megal-megol gawe guyu” artinya Mentok-mentok perjalanan hidupmu, bergeal-geol membuat tertawa. Dalam setiap kepribadian manusia, seburuk apapun sifatnya akan mempunyai sisi positif. Seperti mentok yang malas namun mempunyai sifat percaya diri dan mampu membuat riang sekitarnya.
 
Dalam tembang dolanan tersebut, kita dinasehati untuk jangan bermalas-malasan dalam menjalani hidup. Bekerja keras dan bersosialisasi kepada semua orang. Percaya diri dan tetap melangkah kedepan meski dengan segala kekurangan kita.



No comments:

Post a Comment