Kritik Teater

Doc. Teater Gadhang

Beberapa hari ini saya banyak membaca mengenai masalah kritik teater. “Teater kok dikritik?” batinku. Bakankah teater termasuk dalam kategori kesenian. Bukankan kesenian itu bebas? Kemudian gejolak tentang standar kebebasan dalam berkesenian bertempur dalam pikiran dan hati saya.
Namun bukan berarti tulisan ini menunjukan saya seorang seniman teater. Sekali lagi, dan berkali-kali lagi saya katakan, kalau saya hanya penikmat seni. Masalah benar atau salah saya tidak tahu. Saya hanya ingin menulis. Toh, masih banyak seniman yang tidak ingin menuliskan uneg-uneg-nya mengenai keganjilan dalam berteater.
Saya merangkum beberapa obrolan diskusi dengan para “seniman” di sekitar saya. Maaf saya kasih tanda kutip, karena sampai sekarang saya belum tahu makna seniman. Apakah orang yang berambut gondrong dan berpakaian jorok? Ataukah orang yang setiap hari merokok dan minum alkohol? Atau mungkin yang lebih bijak adalah orang yang pernah membuat sebuah karya seni? Disini akan timbul banyak tafsir mengenai seniman berdasarkan sudut pandang. Jangan sampai makna seniman dipersempit. Misal hanya pernah ikut organisasi kesenian lantas dikatakan seorang seniman. Sehingga banyak seniman yang bertebaran namun tidak menunjukan kompetensinya dalam berkesenian.
Baiklah saya akan coba menjelaskan beberapa kegelisahan saya dan “seniman” tadi. Ada beberapa point yang saya ulas dari banyak point kaitannya dengan kesenian teater yang kebetulan kesenian paling komplek.
  1. kualitas pertunjukan. Sejak tren gagasan garapan ‘teater konvensional’ atau ‘teater kontemporer’, banyak “seniman” muda melakukan eksperimen dalam berteater. Sehingga dimasukan berbagai unsur untuk menunjang visual, namun melupakan kaidah norma berteater. Apa itu norma teater? Menurut saya ada 3 yakni; logika, etika dan estetika. Namun yang saya rasakan adalah urutan yang terbalik. Sehingga lebih menonjolkan estetika dibanding logika dan etika. Bahkan banyak yang menghilangkan norma etika dalam berteater hanya untuk menunjukan kualitas estetika yang ‘sembarangan’.
    Kalau dikembalikan pada slogan “seni adalah bebas” maka tidak akan ada lagi kritik seni atau teater. Berhenti pada kebebasan yang jauh dari makna seni. Keindahan (estetika) dalam berkesenian memang dibutuhkan, namun itu hanya sebagai penunjang. Sehingga tidak melupakan faktor benar (logika) dan baik (etika) dalam berteater. Untuk mengetahui bagaimana kesenian itu benar dan baik hendak belajar dari guru teater yang sudah malang melintang dalam kesenian teater.
    Teater itu rumit. Dan itu yang menjadikan gairah dalam berkesenian. Mencoba memecahkan setiap kebuntuhan dan permasalahan pada saat proses untuk mendapatkan hasil yang sesuai ekspektasi. Setiap kerumitan harus dihadapi dengan pikiran dan hati longgar, dan tetap dicarikan jalan keluar. Bukan lantas putus asa dan membuat sebuah karya tanpa makna atau pesan yang disampaikan kepada penonton.
    Sebuah karya teater adalah hak untuk penonton yang dihidangkan oleh sebuah kreator teater. Sehingga 3 unsur pokok harus puas pada hasil yang ditawarkan (kreator karya, karya seni, dan penonton). Jika memahami hal tersebut, tentunya sebuah kreator sastra tidak akan egois dengan kebebasan dalam berkeseniannya. Karena karya seni yang ditawarkan bukan hanya untuknya, namun untuk semua penonton.
    Standar pementasan yang bagus? Kualitas pementasan sampai saat ini saya masih rancu. Yang menurut saya bagus, malah berbanding terbalik dengan “seniman” lain. Sedangkan yang menurut saya jelek, malah dinagap keren oleh “seniman” lainnya. Lalu bagaimana kualitas pertunjukan teater yang baik? Kalau menurut saya adalah sudut pandang. Seperti halnya seseorang tertarik kepada lawan jenisnya tentu akan bermacam-macam. Meski ada beberapa yang sama. Namun akan lebih umum terdengar kata relatif diantara mereka. Begitupun teater. Banyak unsur yang patut diperbincangkan. Sehingga penilaian pada sebuah pertunjukan akan berbeda satu sama lain.
    Pada beberapa artikel yang saya baca, baiknya sebuah pertunjukan. Intinya tidak melanggar norma teater. Membatasi kebebasan dalam berkesenian dan tidak meninggalkan ruh teater. Selalu menjalankan dan menekankan proses dramatugi dalam berteater. Tidak melebar kesana kemari tanpa alur cerita dan pesan yang jelas.
     
  2. Egiosme seniman. Idealis dengan egois tentu sangat berbeda. -me merupan sebuah faham yang melekat pada seseorang atau kelompok tertentu. Idelais bisa dipertanggungjawabkan kebenaranya pada sebuah karya. Sedangkan egois, cenderung lebih menonjolkan emosi karena tidak ingin disaingi oleh “seniman” lainnya. Tak heran banyak diantara tokoh seniman besar saling “bentrok” dari berbagai segi. Persainganpun tidak lagi memperhatikan pesan teater sebagai pelastarian kebudayaan, namun sebagai wadah ajang gengsi memperebutkan riuh tepuk tangan penonton.
    Seniman seharusnya menjadi pelayan masyarakat. Mengajarinya melalui pesan verbal atau nonverbal. Seperti awal mula kemunculan nama teater yang dulunya disebut sebagai “sandiwara” diambil dari kata sandi dan warah yang artinya pesan simbol yang diajarkan. Seniman tidak boleh egois terhadap karyanya. Legowo menerima kritik dan saran. Membuka paradigma teater dari berbagai sumber.
     
  3. Dunia Teater Kampus. Karena saya pernah berada dalam perteateran kampus, jadi saya agak miris ketika banyak omongan yang mengatakan kalau “teater kampus cenderung sak-sak’e ketika menampikan sebuah pertunjukan teater”. penilaian buruk kerap disematkan pada teater kampus. Yang katanya berkarya hanya sebatas menjalankan sebuah program kerja. Sedangkan menurut “seniman” bahwa menggarap teater harus disertai dengan kegelisahan yang besar untuk disampaikan kepada penonton. Anggapan minor yang terus ditujukan kepada teater kampus kadang juga ada benarnya. Namun tak lantas mendiskreditkan teater kampus. Toh, banyak teater independen dan seniman nasional yang awal karirnya merintis dari teater kampus.
    Teater harusnya diayomi dan didukung untuk terus maju. Bersyukurnya masih banyak mahasiswa muda yang masih menghargai kesenian teater yang selama ini dainggap sebagai perusak moral. Banyak cerita dari teman-teman teater kampus yang saat ini memang menjadi anak tiri. Tidak adanya pelatih teater, alumni yang enggan berjuang untuk mengembangkan teater kampus. Banyak alasan diantara mereka. Seperti mengurus masa depan, jarak yang tidak memungkinkan dan lain sebagainya.
     
  4. kritik teater. Kritik teater bisa melalui berbagai cara. Seperti ungkapan langsung kepada krator seni, ada juga lewat tulisan dan juga melalui beberapa sindiran. Kritik teater sendiri adalah ulasan terhadap sebuah pertunujukan teater yang disajikan kepada penonton. Kritik teater ditujukan untuk menjadi sebuah evaluasi untuk pertunjukan berikutnya agar lebih baik.
    Namun yang menjadi kritik saya terhadap kritikus teater adalah cenderung didasarkan pada ketidaksukaan kepada tokoh atau kelompok teater tersebut. Tak heran jika beberapa kali mengikuti evaluasi pementasan malah terkesan dengki kepada seseorang bukan membahas lakon atau pesan yang baru saja disajikan. Ada pula yang munafiq dengan menyatakan ketidaksukaan terhadap pertunjukan yang padahal merupakan pertunjukan yang menarik.
    Sehingga kritik teater pun juga menjadi samar, sesamar pertunjukan teater surealis. Lebih banyak ungkapan subjektivitas daripada objektivitas, yang ada adalah penggiringan opini tentang teater yang baik menurut versinya. Bukan berdasar teater sesungguhnya.
    Kritik teater cenderung lebih tajam dan detail. Karena banyak unsur yang disajikan dalam pertunjukan teater. Penilaian akan beraneka ragam sesuai kekuatan “seniman” yang melakukan kritik. Kritikus teater haruslah orang yang memang kredible dibidangnya. Mereka yang memiliki bakat seni, berjiwa besar dan memiliki pengalam yang cukup dalam berteater. Sehingga bisa dipisahkan antara kritikus yang benar benar mengkritik teater dengan “seniman” yang asal mengkritik sebuah pertunjukan.
    Kritik teater itu penting. Namun ubahlah gaya mengkritik dengan tujuan membangun dan memotivasi pertunjukan selanjutnya, bukan malah menghakimi dan menghancurkan mental sehingga putus asa dalam berkesenian.
    Salam budaya!!
     

No comments:

Post a Comment