Buku Kaum Minor


@kaumminor_

Alhamdulillah, cita-cita di depan mata. Proses cetak buku pertama. Berjudul Kaum Minor. Selain nunggu pembuatan kode ISBN, sekarang juga sudah proses layout. Penerbit berasal dari Pati (Al-Qalam). Meski saat ini saya sedang bekerja di perusahaan penerbitan, namun karena satu dan lain hal, saya memutuskan untuk tidak mencetak dan menerbitkan buku di perusahaan dan anak perusahaan yang saya diami.
Terimakasih untuk bantuan dan dukungannya. Cahyo Adi N (penggiat sastra) dan Udiarti (pekerja seni/ salihara) yang sudah bersedia menjadi editor. Fajar Nur Aini (penulis buku psikologi) yang selalu memacu untuk segera menyelesaikan naskah. Maulida Goldy (Teknik Komputer Undip) yang sudah bersedia mendesain cover buku saya. Dan semua kawan dan sahabat yang telah memberi semangat dan do’a untuk nafsu impian saya tersebut.
Memang dari dulu punya cita-cita sebagai penulis profesional. Wartawan atau novelis. Namun lambat laun cita-cita perlahan memudar karena tuntutan banyak pihak. Jurusan ekonomi? Karena dulu masih terlalu labil menentukan kekayaan dengan ukuran bekerja di Bank. Sempat juga masuk ukm minat bakat di bidang kepenulisan, namun juga tidak berjodoh. Beberapa kali mengikuti kegiatan sastra di Solo dan sekitarnya. Namun juga tidak ada gairah membelot menuju cita-cita sejak dini.
Akhirnya keadaan yang memutuskan bahwa takdir tidak bisa dipaksakan. Bersyukur masih diberi kesempatan menulis, meski masih tahap penulis amatir. Toh, sejatinya tujuan penulis bukan untuk mencari pundi uang, melainkan mengapresiasi ide diri untuk orang lain. Apakah buku bermanfaat atau tidak itu terserah konsumen. Semoga saja buku saya bermanfaat.
Ini adalah buku pertama, yang kemudian saya berniat membuat buku lanjutan. Sehingga harapan saya banyak kritik untuk gaya penulisan atau konten yang disajikan. Minimal saya bisa belajar unuk menjadi lebih baik dari sebelumnya. Seperti para seniman bilang “tidak ada karya pertama kok langsung bagus”. saya juga meyakini masih banyak kekurangan untuk hal yang diangkat dalam buku saya.
Sekilas Tentang Buku
Buku ini hanya sebatas sudut pandang yang ditempeli beberapa referensi. Dulu sebelum saya memutuskan menulis, sempat beberapa orang menasehati untuk menulis buku fiksi saja. Mengingat banyak penulis terkenal berasal dari novelis dan cerpenis. Ya, dalam hati, mungkin setelah ini mau nulis novel atau kumpulan cerpen. Namun karena kegelisahan yang memuncak tentang apa yang saya tulis dalam buku kaum minor, maka saya tetap lanjutkan sampai saat ini.
Isinya? Ada 3 bab yang saya angkat; Pengakuan, Agama dan Sastra.
Pengakuan adalah proses belajar saya untuk menjadi manusia yang baik. Sehingga jangan ditafsirkan itu untuk “anda” yang masih buruk, agar bisa menjadi saya yang sudah baik. Karena gaya bahasa saya yang masih menggunakan kamu atau anda bukan berarti saya orang pertama dan kamu adalah orang kedua. Intinya dalam bab pertama adalah proses manusia belajar menjadi pribadi yang pantas dan memantaskan diri menjadi baik.
Dalam bab kedua membahas tentang agama. Agama islam sebagai sudut pandang saya, namun pembahasan lebih secara general. Karena di sana juga ada pembahasan tentang konsep tauhid dari semua ajaran agama. Harapan dan tujuan di bab ini adalah manusia yang beragama bisa lebih luas memaknai agama dan konsep ketuhanan. Sehingga puncak tujuan dari agama itu sendiri adalah kedamaian dan kesejahteraan. Toleransi dan saling menghormati. Tidak terpecah dengan berbagai aliran agama. Pembedahan bahwa kebijaksanaan lebih berharga daripada ilmu.
Terakhir adalah sastra. Masih juga berkaitan tentang pengakuan dan agama. Bahwa urutan manusia memahami kehidupan adalah logika, etika dan estetika. Namun banyak di bab 3 lebih membedah keadaan sastra di masa kini. Kemudian juga tentang kritik sastra, seni dan bahasa yang masih saja membuat PeDe kalangan gagal faham. Manusia (aku) berjalan dengan pakaian (agama) menuju kesastraan (indah).
@kaumminor_

Tiga bab di atas adalah pelajaran yang saya tekuni selama ini. Selain sejarah, ekonomi dan filsafat. Sehingga saya akan sangat berbahagia jika ada yang mengapresiasi buku kemudian memberikan kritikan. Karena sejatinya proses perjalanan hidup masing-masing orang tentulah berbeda. Apalagi buku saya tentang sudut pandang.
Menulis buku non fiksi itu rumit. Kalau saya menulis satu artikel yang saya masukan dalam blog bisa berkisar 20-30 menit. Kalau buku bisa berhari-hari bahkan berbulan-bulan. Artikel hanya satu topik yang diangkat. Gaya penulisan juga bebas. Karena tidak ada pasar yang dituju. Nah sedangkan buku, kita harus memperluas bab yang akan diangkat, sehingga bukan kesan padat berisi, tapi memuai tetap berisi. Menulis ide pada sebuah tulisan yang sudah ada sebelumnya itu lebih sulit dari pada apa yang ada saat ini.
Meski sudah proses cetak, sebenarnya masih banya ide yang belum sempat saya tulis karena keterbatasan waktu (deadline). semoga beberapa “recehan” ide bisa saya lanjutkan pada buku berikutnya. Atau minimal saya tulis melalui blog.
Terakhir ada pesan dari Pramoedya Ananta Toer,
“Orang boleh pandai setinggi langit, tetapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah sebuah pekerjaan keabadian”

2 comments:

  1. Selamat, saya juga pengen buat buku, boleh kritik sedikit, penulisan artikelnya fontnya kecil, dan kalau ganti paragraf di kasih space saja kayaknya lebih rapi

    ReplyDelete