Islam Harus Move On

all-about-psychology
Kali ini saya harus menuruti dan mengamini petuah bijak ABG labil tentang move on. Mulai dari saran untuk melihat kaca mobil daripada spion, masa lalu menjadi pelajaran bukan harapan, dan lain sebagainya. Ya, kalau ini disangkutkan sama Islam. Kenapa?
Sekali lagi kalau bahas soal agama silahkan langsung bertemu saya jika ada pernyataan yang sekiranya bersimpangan. Islam itu kan punya beraneka macam ya? Kalau masih terjebak pada ranah ilmu, ya demikian. Memperselisihkan fahamnya masing-masing. Padahal islam itu harusnya bijaksana. Mengaku islam tapi tidak tahu “islam”. Mengaku ulama tapi malah membenci ulama. Mengaku sunah tapi menolak hadist. Itu lah islam masa kini. Mereka yang baru belajar Iqro’ kok disuruh khataman Al-Qur’an.
Lucu. Kalau setiap apapun ditanyakan “mana dalilnya?”. Ini yang khusus bidang ibadah muamalah maka mereka akan kompak menjawab “Dalilnya dhoif”. Makanya perlu pendidikan yang sangat amat mendasar di kalangan kaum “berani hijrah” untuk lebih mempelajari agama. Kalau masih ribut mempertentangan iktilafiyah. Mending pergi ke toko buku islam. Belajar yang banyak sebelum mempertentangkan sesuatu yang mereka sendiri tidak faham.
Terus masalah non ibadah muamalah (ibadah mandhoh), mereka akan kompak menjawab “itu namanya Qiyas”. Haduh, bapak ustad yang terhormat. Mbok kalau dakwah itu yang konsisten. Masalah ibadah muamalah dipertentangkan karena mereka tidak menemukan dalil-nya. Kemudian dikasih dalil mereka menolak. Kami kasih logika mereka juga menolak karena agama harus berdasar Al-Qur’an dan Sunnah. Lha mereka sendiri menggunakan Qiyas dalam beragama.
Bingung?
Makanya belajar. Belajar agama itu luas. Bukan hanya tentang haram-halal. Bid’ah-sunnah. Nah, masalah yang njlimet soal dalil. Saran saya belajar itu ushul fiqih. Biar otak terang mempelajari agama. Kalau masih menolak fiqih sebagai sarana memahami Al-Qur’an dan As-Sunnah. Silahkan ketemu saya. Diskusi. Barangkali ada yang salah soal pemahaman agama sampeyan.
Karena banyak yang tidak faham soal iktilafiyah. Saya akan jelaskan lebih mendetail ya. Khilafiyah itu perbedaan soal ibadah mahdhoh. Kalau tidak ada dalilnya, jelas SESAT! Silahkan hujat mereka dengan kata-kata yang biasa sampeyan keluarkan. Nah, yang kedua ada iktilafiyah. Itu ibadah muamalah. Contohnya yang seringkali diperdebatkan. Soal ibadah yang dibuat-buat. Seperti dzikir, sholawat, ziarah kubur, tahli dan lain sebagainya. Bid’ah? IYA. Tapi bid’ah hasanah. Seperti pemberian makhroj dalam Al-Qur’an. Memberikan toa masjid untuk memanggil sholat, berdakwah via media sosial, membaca Al-Qur’an melalui smartphoe. Itu semuanya tidak ada dalilnya. Faham??
Nah, kalau qiyas itu mengkiaskan tapi tidak melanggar syariat. Seperti pergi haji tidak harus jalan kaki atau menggunakan onta seperti Rasulullah. Bisa menggunakan pesawat atau kendaraan lain. Bid’ah? IYA! Tapi masak ya tidak boleh naik haji? Oke, mungkin agak lebih ada gambaran ya...
Nah, selanjutnya, Islam itu harus move on. Maksudnya bukan berarti melupakan sejarah. Hadist atau fatwa ulama madzab. move on itu ya harus mengikuti perkembangan zaman. Seperti generasi khilafah abbasiyah, ummayah dan utsmaniyyah yang berbeda ketika menghadapi persoalan agama dibanding zaman rasulullah. Perkembangan teknologi meledak di generasi umammayah. Begitu juga saat ini. Kalau setiap permasalahan ditanyakan dalilnya. Maka saat ini seharusnya kita berkendara menggunakan kuda, habi yang dibolehkan ya hanya memanah, berenang, tidak boleh menggunakan media sosial, bekerja di perusahaan yang di luar jaman Rosulullah. Ribet kan? Padahal Islam itu harus berkemajuan. Nah, syarat untuk maju itu harus move on. Kemajuan memiliki konsekuensi perubahan, menuju sesuatu yang baru. Makanya banyak ulama yang menganjurkan adanya ijma’ dan qiyas.
Bukan berarti mengesampingkan Al-Qur’an dan Sunnah. Nah itu ushul (dasar) beragama. Yang membedakan itu masalah tafsirnya. Makanya ada asbabunuzul. Tahu kan artinya? Makanya jangan asal menanyakan dalil. Nanti kalau ditanya balik dalil kebingungan tidak bisa menjawab. Akhirnya menggunakan logika. Itu lebih bahaya. Suka mengkafirkan segala hal karena permasalahan dalil. Menolak pengetahuan, menolak teknologi, menolak kecerdasan karena anggapan bahwa semua sudah tercermin dalam sunah. Padahal Rasul sendiri men-jaiz-kan urusan dunia kepada umatnya.
Waduh kalau menjelaskan ini bisa beratus halaman. Padahal sekali lagi belajar islam bukan hanya seputar iktilafiyah. Tapi kok sekarang yang dipertentangkan cuma itu. Kalau bisa bertemu dan kita diskusi mungkin bahasan akan lebih jauh luas. Tentang tauhid dan sejarah islam.
Sudah dulu ya, percuma juga saya jelaskan panjang lebar kalau pemahaman agama memang belum sampai tahap yang saya harapkan. Silahkan belajar dulu. Kalau hanya ikut organisasi. Yaelah, kalah sampeyan sama anak SMP lulusan pondok pesantren. Jangan paksa islam selalu menoleh ke belakang atau memandang spion. Mari berjalan ke depan. Zaman itu dihadapi bukan malah dihindari dan kembali kepada pemahaman yang diri sendiri tidak faham.

No comments:

Post a Comment