Manipulasi Logika dan Perasaan

armiko pratama

Kemudian ada yang chat “mas, kok jarang nulis artikel tentang percintaan?”. Oke saya akan mulai nulis tentang sebuah pemahaman dan pengalaman di dunia percintaan. Masih seputar logika yang melawan perasaan.

 
Logika? Perasaan?
Yang digagalfahamkan saat ini adalah kemutlakan logika bagi kaum pria, sedangkan perasaan hanya milik wanita. Padahal setiap orang, baik wanita atau pria, mempunyai logika dan perasaan masing-masing yang memang kadar mayoritasnya cenderung wanita ke perasaan dan pria ke logika. Namun ada beberapa yang menolak pemahaman ini, seolah logika padahal perasaan, sedangkan yang benar-benar logika malah disangka perasaan. Intinya logika lebih digerakan oleh otak, sedangkan perasaan lebih ke hati. Nah, selanjutnya silahkan direnungkan sendiri, sedang berlogika atau berperasaan kalian saat ini? Sudah seimbangkah antara logika dan perasaan kalian dalam membina sebuah hubungan?

Ketika berdiskusi dengan saya, kebanyakan dari mereka pasrah akan takdir. Wanita selalu merasa kalut atas hubungan asmaranya. Sedangkan laki-laki selalu berfikir, “mati satu, tumbuh seribu”. Padahal ini bukan fakta tentang perasaan yang bertolak belakang dengan logika. Bodohnya dari mereka gegara mempertahankan perasaan (wanita) rela melepaskan keperawanannya untuk pria karena tidak mau ditinggalkan. Sedangkan bagi si pria, fokus utama adalah kebahagiaan, ketika itu sudah dicapai dan bosan, maka ia akan mencari kebahagian yang lain. Saat itulah wanita merasa begitu berat menanggung takdir bahwa perasaan telah melemahkannya dalam kisah asmara.

Yuk, agak sedikit lebih peka tentang sebuah kisah percintaan. Siapa sih yang sebanrnya kita cintai? Jawabannya saya yakin sama, DIRI KITA SENDIRI. Bahkan banyak di antaranya, mencintai dirinya sendiri melebihi dari cinta kepada sang maha pemberi cinta. Makanya saya agak gelisah dengan wacana poin, kepastian, kenyamanan, perhatian dan halusinasi percintaan lainnya. Ada banyak hal yang dilupakan karena bias-bias kesejatian cinta. Makanya saya beberapa kali menulis bahwa makna cinta itu adalah wujud afiliaso kebahagiaan diri sendiri yang dihibahkan kepada orang lain.

Maksudnya?
Seolah kita sangat mencintai orang lain, padahal kita sebenarnya mencintai diri kita sendiri. Sedangkan wujud halusinasi cinta yang dijelaskan di atas adalah sebuah retorika untuk perjuangan dari kedua belah pihak untuk menunjukan seolah-olah ada salah satu yang lebih dalam kadar mencintainya. Dua sejoli tersebut saling berargumen dan berdebat tentang siapa yang lebih besar cintanya, sampai ujungnya mereka merasa cintaku penuh pengorbanan.

Mereka yang menjadikan lawan jenis (pasang) media mengekspresikan kebahagiaannya sendiri sering tidak sadar. Anggapanya adalah cinta dalam sebuah hubungan itu adalah kebahagian kedua sejoli. Jadi kalau salah satu merasa bahagia, mereka menaggap pasangannya juga bahagia. Sedangkan realitanya tidak demikian. Kadang cinta hanya sebuah wujud toleransi, rasa tidak enak, dan mungkin juga karena tidak sedang merasakan apapun. Makanya saya sering mengatakan, cinta itu kalau tidak berkurang, berganti, pasti hilang. Tidak ada cinta stabil dan sejati. Karena kesejatian cinta hanya milik Tuhan.

Sekarang mari kita simak beberapa argumen dari pecandu cinta jaman sekarang,
Cinta itu butuh kepastian
Kalau kepastian dipaksakan kepada sebuah kisah asmara dua sejoli, maka hal tersebut akan mengingkari kodrat manusia sebagai hamba (manusia), bahwa kepastian itu milik Tuhan, bukan cinta palsu manusia
Cinta adalah kenyamanan
Ketika seseorang merasa nyaman pada sebuah hubungan asmara, maka mereka akan melupakan kenyamanan yang sebenarnya, yakni ibadah. Tidak ada hal apa pun yang lebih nyaman daripada beribadah, meskipun itu perhatian alay dari pasangannya.
Cinta itu butuh perhatian
Sedangkan yang benar-benar perhatian adalah dirimu sendiri. Orang lain tidak akan mampu memberikan perhatian melebihi perhatian dirimu terhadap diri sendiri. Itulah kenapa cinta kepada diri sendiri melebihi kecintaan kepada siapapun.
Cinta itu butuh pengorbanan
Sekali mereka merasa melakukan pengorbanan terhadap cintanya, maka gugurlah cinta sucinya. Karena makna cinta selalu seputar kebahagiaan. Tidak ada perasaan ingin dibalas budi, kecewa, sedih. Karena cinta itu adalah keikhlasan. Dan ikhlas tidak pernah bisa berkata, termasuk kepada cinta.

No comments:

Post a Comment