Mengelak Terlihat Baik


Pada dasarnya semua orang ingin menjadi baik. Kenyataannya manusia selalu merasa dirinya baik. Dalam bahasa abu-abu, banyak orang melemparkan wacana tentang ketidakbaikan mereka, sedangkan dalam lubuk hatinya terselip rasa bahwa dialah yang paling baik. Kuantitas perasaan baik dalam dirinya dapat diukur dari sebarapa banyak dia melihat ketidakbaikan dari orang lain. Semakin jahat seseorang terhadap dirinya, maka semakin merasa baik dia di hadapan orang tersebut. Semakin banyak orang yang dituduhnya jahat, semakin sempurna perasaan menjadi baik orang tersebut.

Bungkus dari “sok baik” dalam diri manusia ini kadang menjadi sebuah bomerang. Kala dia berusaha terlihat baik di hadapan orang lain dengan risiko membohongi lawan main. Misalkan dia merasa bahwa kejujuran akan membuatnya terlihat tidak baik. Alhasil, kebaikan menjadi samar dan berubah menjadi sebuah kepicikan. Menyembunyikan kebenaran untuk eksistensi mereka supaya tetap terlihat baik. Mengelabuhi orang lain yang mudah dikelabuhi. Membodohkan diri karena gagal mengelabuhi orang yang susah dikelabuhi.

Ukuran kebaikan bukan perasaan diri. Mungkin bisa sedikit digambarakan bahwa kebaikan seseorang itu diukur dari perbincangan dengan orang-orang tanpa diketahui oleh subjek yang akan dinilai baik atau buruk. Jika banyak orang yang membicarakan kebaikan orang A, maka dia bisa dikatakan baik dalam tatanan bermasyarakat - sosial. Namun baik ini bisa saja dibuat-buat untuk menarik percakapan atau isu agar dia terlihat baik. Karena kebaikan itu sumber utama ada dalam karakter atau watak manusia itu sendiri. 

Memunafikan kebaikan bisa membuat manusia itu menjadi tertekan dan khawatir selama perjalanan hidupnya. Baik itu natural. Normal. Jika kebaikan diada-adakan, maka orang yang dilibatkan akan mengucilkan bahkan menilai dirinya sebagai tokoh yang buruk/ jahat. Manusia itu yang paling sederhana adalah memproseskan diri untuk selalu berlaku baik. Bukan hanya untuk dirinya sendiri, tetapi juga kepada orang lain, alam, dan Tuhan.

Jika dalam prosesnya manusia merasa terbebani, maka introspeksi adalah hal yang utama. Karena manusia sekarang lebih bangga mengkritisi orang lain daripada mengkritisi dirinya sendiri. Padahal kritik yang paling tajam dan mudah dilakukan adalah kritik untuk dirinya sendiri. Tanpa menyinggung perasaan dan mampu untuk diubah. 

Benar belum tentu baik


Kebenaran saja tidak ada, apalagi mengakui kebenaran dari dalam dirinya. Misalpun kebenaran terlanjur diklaim, tidak seharusnya kebenaran itu diekspresikan. Baik itu sudah setingkat lebih tinggi daripada kebenaran. Tidak semua kebenaran akan menjadi sebuah kebaikan. Sedangkan kebaikan sudah tentu adalah sebuah kebenaran. Karena kebenaran manusia selalu mempunyai batas. Sedangkan kebenaran sejati hanya milik Tuhan.

Proses mencari kebenaran bisa beragam jenis. Mulai dari belajar, membaca, memiliki banyak pengalaman, dan peka terhadap sebuah kejadian. Kebenaran setiap manuisa selalu berbeda. Jika memaksakan kebenaran berdasarkan penelitiannya, maka dia bukanlah manusia yang baik, apalagi bijak. Sudut pandang yang banyak ini harusnya disadari oleh setiap manusia. Sehingga mengurangi unsur menyalahkan orang lain, sedangkan yang muncul adalah memuji orang lain.

Ketika seseorang sudah memuji dan mengakui kebaikan orang lain, berarti dia telah melalui tahap awal menjadi baik. Selanjutnya adalah usaha untuk melakukan kebaikan serupa dengan metode lain. Minimal ada standar kebaikan yang ingin dicapai setelah melihat atau mengamati kebaikan orang lain.

Asumsi terhadap kebaikan bisa membuat sesorang terjebak pada prasangka-prasangka. Manusiawi. Naluriah. Manusia selalu didorong oleh nafsu mereka untuk iri, dengki, dan teliti melihat kekurangan orang lain. Kelemahan sekecil lubang jarum akan terlihat besar di mata orang lain, sedangkan kebaikan segunung hanyalah debu yang melayang di mata orang lain. Prinsip selalu ingin menjadi yang lebih.

Puncak menjadi orang baik adalah perasaan hina, bejat, jahat, dan penuh dosa. Waktunya hanya untuk memohon ampunan dari Tuhan. Merasa kagum dengan nikmat yang diberikan kepadanya. Bersyukur dengan kepunyaannya. Tidak pernah iri dengan apa yang dicapai oleh orang dalam lingkupnya. Baik akan selalu berproses tanpa harus mengelabuhi orang lain. Jika orang tersebut baik, maka tidak akan ada kekhawatiran untuk berusahan menjadi baik. Penilaian baik akan diterima dari orang lain, selebihnya akan diserahkan hasil akhir setelah kehidupan di dunia yang penuh dengan retorika.

Drama tidak akan pernah selesai. Protagonis selalu diperebutkan, antagonis adalah peran yang dipaksakan sutradara. Sedangkan dalam prosesnya manusia selalu merasa menjadi protagonis, sekalipun sang sutradara memerintahkan dirinya menjadi tokoh antagonis. Menjadilah manusia yangs sewajarnya tanpa harus membuat-buat sebuah kebaikan dengan mengelabuhi diri dan orang lain. Menjadi diri sendiri sesuai titah dari Tuhan sang Maha Sutradara.

No comments:

Post a Comment