Tuna Asmara




Istilah tuna berasal dari bahasa sansekerta yang artinya tidak memiliki. Padahal kalau kita simak banyak istilah tuna yang bertolakbelakang dengan pengertian tidak memiliki. Misalnya, mintuna (jodoh laki-laki dan perempuan), prantunan (penantian kekasih), dan mungkin juga tunangan (pasangan kekasih). Istilah tuna banyak digunakan sebagai penujuk disabilitas pada seseorang. Seperti tuna netra, tuna wicara, tuna aksara, tuna wisma, tuna daksa, tuna rungu, dan tuna-tuna lainnya.
Saya pikir sudah tidak asing dengan istilah yang menggunakan kata tuna, mungkin juga pengertiannya yang banyak dijelaskan di internet. Namun saya ingin sedikit membahas tentang tuna asmara atau kecacatan manusia dalam kisah percintaan.
Eits, namun tulisan saya bukan seputar tentang penyempitan makna cinta seperti yang terlintas di benak para remaja. Cinta itu maknanya luas. Seluas kebahagiaan yang tersebar di tengah samudera. Objek yang dituju juga bukan tentang dua orang kekasih yang sedang kasmaran, namun bisa sangat multitafsir. Kepada Tuhan, alam, orang tua, guru, sahabat dan mungkin juga kepada kekasihnya. Karena menurut saya, cinta adalah sesuatu yang absurd namun penuh dengan keselarasan.
Kalau cinta bisa ngomong, pastilah kehidupan ini penuh dengan kedamaian dan kebahagiaan. Sayangnya banyak di antara kita yang sangat mahir menyembunyikan cinta. Asmara tersebut dipendam sebegitu lama hingga muncul benih asmara baru. Sedangkan asmara yang lama tinggal nama dan kenangan. Pun dengan kondisi akhir-akhir ini. Bukan lagi orang menyembunyikan asmaranya, namun banyak dari kita sudah kehilangan asmara.
Setiap waktu asmara menjadi bahan bully-an. Katanya cinta itu omong kosong, cinta itu pembodohan, cinta itu penuh kemunafikan dan istilah lainnya yang menodai makna cinta yang sangat indah. Ketika seseorang pernah dilukai seseorang atau keadaan, apalagi atas nama cinta, maka mereka akan menjadikan cinta sebagai sesuatu yang paranoid. Di antaranya menyamarkan cinta dengan kepicikan untuk mendapatkan nafsu masing-masing. Cinta yang semula putih menjadi keruh, tercemar dan beracun. Sehingga yang nampak bukan lagi kecintaan tapi bersliweran kebencian.
Bagaimana mungkin cinta secepat kilat beralih gegera sesuatu yang tidak bisa dipikir logis?! sedikit saya singgung dalam dunia perpolitikan nasional. Peran presiden Jokowi begitu menjadi tokoh antagonis bagi sebagian orang. Misalkan kita ambil kasus Anis Baswedan yang begitu deras dihujat karena menjadi tim sukses pemenangan Jokowi di tahun 2014 kemudian sekejap menjadi acuan pemimpin muslim yang diangkat luar biasa ke media sosial. Terbaru adalah tokoh ulama sekaliber Tuan Guru Bajang Muhammad Zainul Majdi yang dituduh sesat dan dicaci maki oleh yang baru kemarin memujanya hanya karena berpindah haluan politik.
Asmara apa yang sebenarnya ingin disampaikan???
Contoh kasus di atas adalah dari banyak contoh tuna asmara yang sering kita alami. Dalam kisah cinta anak muda yang dijanjikan beratus artikel pujian, hanya menjadi surat lusuh yang berserak di lantai kamar. Janji hanya diucap saat pendekatan, setelah putus atau cerai, bukan lagi janji yang membingkai kisah asmaranya, namun berbagai umpatan dan cacian. Cinta itu sebenarnya bagaimana?!
Kita sebaiknya butuh banyak berdoa agar bisa diberikan asmara dalam diri. Sehingga bukan kebencian yang selalu meleputi hati kita. Bukan hanya kepada pasangan kekasih, tetapi kepada semuanya. Semakin banyak cinta, maka dia akan menjadi wadah aspirasi beningnya kehidupan. Kehidupan yang sejuk jangan dibakar dengan percikan api kebencian, keirian, dendam, kemarahan dan sifat panas lainnya. Cinta harus selalu dipupuk ke dalam logika dan hati manusia agar selamanya mempunyai watak dan sifat kasih sayang kepada apapun dan siapapun. Tuna asmara bukan hanya tentang seputar kejombloan, tapi lebih kepada jiwa manusia yang kehilangan kesejukan bersikap, berfikir dan berperilaku.

No comments:

Post a Comment