Minat dan Bakat

Ada beberapa hal yang menjadi minat seseorang, namun berminat belum tentu berbakat. Minat adalah keinginan dan hasrat terhadap sesuatu. Bahkan untuk ukuran manusia yang beranjak dewasa akan banyak minat yang menyelimuti pikiran dan hati mereka. Semuanya ingin dikuasai, mendiktatorkan diri dihadapan yang lain. Lain halnya dengan bakat. Ia sudah nampak sejak lahir, dan berkembang seiring berjalannya waktu. Tergantung kelihaian yang mempunyai bakat menerpakan aplikasinya di dalam kehidupan.
Semasa kecil saya berminat pada beberapa hal yang berkaitan dengan olahraga. Mungkin sebuah warisan dari bapak saya yang cukup ahli di berbagai bidang olahraga. Kemudian juga banyak perbincangan tentang olahraga yang populer di lingkungan saya. Saat kecil saya sudah diajari beberapa olahraga yang kebetulan dikuasai oleh ayah saya. Semacam sepakbola, bulu tangkis, volley, dan catur. Berbagai permainan tradisional di lingkungan saya juga membentuk minat saya dalam wadah keceriaan dan olah fisik. Demikan banyak hal yang membuat minat saya bercabang namun ketika itu saya masih tidak memikirkan bakat apa yang saya miliki.
Menganjak remaja saya mulai berminat kepada lingkungan pengajian. Saat itu teman seusia ramai dan bahagia mengaji pada sebuah mushola kecil sehingga ada fase keceriaan anak pada permainan tradisional beralih ke lingkungan santri. pendidikan agama berlangsung hingga menginjak masa dewasa. Dan alhamdulillah sudah menjadi sebuah majelis yang besar dan berkembang. Karena ketika itu saya dan teman-teman merupakan tonggak awal kemajuan Majelis kami.
Ketika itu saya banyak melewatkan hal yang berbau modernitas diantara teman sekolah saya yang ahli pada teknologi. Maklum, saya berasal dari keluarga dan lingkungan yang sederhana. Bahagia kami bukan tentang pacaran dan saling perhatian antar lawan jenis. Cukup dengan berkumpul di "cakruk" bawah pohon sambil minum kopi, kami bahagia bercerita tentang banyak hal dan kenangan.
Dewasa. Mungkin fase mulai menemukan minat dan bakat saya. Meski sampai sekarang saya akui masih mengambang dalam menentukan minat bakat saya. Awal kuliah saya masuk Unit Kegiatan Mahasiswa yang menaungi minat bakat mahasiswa baru. Saya memutuskan untuk ikut berbagai UKM karena saya juga masih mencari sesuatu yang ada dalam diri saya. Pertama ikut HMJ, dimana saya ingin lebih kuat dalam berkoordinasi dan bertanggungjawab. Kedua ikut Badan Pers Mahasiswa, karena dulu saya sempat bercita menjadi penulis dan wartawan. Ketiga ikut Teater, yang sampai kini masih saya tekuni. Mungkin ini adalah salah satu minat saya, yakni berkesenian. Meskipun saya merasa belum berbakat. Dalam berteater saya menemukan banyak hal mengenai seluk beluk kehidupan, mengenai karakter seseorang dan bagaimana bertindak menghadapi sebuah permasalahan. Memang masih setengah mempelajari kesenian, namun saya sangat mencintai hal yang berkaitan dengan kesenian, tidak melulu tentang teater. Akhirnya timbullah sastra, yang didalamnya mencakup semua aspek minat saya. Mulai dari membaca, menulis, dan berkarya.
Mengenai bakat, sampai saat ini saya merasa tidak mempunyai bakat yang patut untuk saya banggakan dihadapan yang lain. Karena untuk keahlian saya selalu melihat sosok yang diatas saya. Dan semua memiliki apa yang sedang ingin saya miliki. Namun saya akan tetap belajar tentang apapun karena bagi saya HIDUP ADALAH PROSES BELAJAR!!

No comments:

Post a Comment